Aku pernah bercerita kepada malam, lalu malam diam hanya mengangguk dan menerima
Lalu esok harinya aku kembali menceritakan semua laraku pada malam dan malam kembali menerima
Aku tak pernah berhenti, esoknya aku datang dan bercerita kepada langit
Langit hanya menyaksikan sambil mengeluarkan rintik gerimis air yang jatuh ke tanah
Aku kembali lagi bercerita tentang pahit yang kulahap sendiri kepada bintang dan bulan
mereka hanya diam
Lalu ke esokan hari nya aku menatap langit ternyata bintang hanya singgah sendiri tidak lagi bersama bulan.
Kamu tau? dari situ aku belajar, tak semua akan menerima bagaimana ceritaku
Begitu pun saat kamu tau bagaimana perasaanku yang masih tetap sama keadaannya sejak pertama kali aku menjumpaimu.
Bagaimana pun bagiannya akan ada penolakan yang akan selalu aku terima.
Aku menjadikanmu sendayu mataku, sejauh aku mengalir dari hulu ke hilir. Tatapan matamu masih menjadi bagian favorit cerita lamaku.
Aku menjadikanmu cerita yang enggan di dengan langit, malam, bintang ataupun bulan.
sampai aku sadar bagaimana pahitnya memeluk bayangan kosong yang selama ini ku genggam
Kamu tau?
Akan ada cerita tentangmu yang aku ceritakan pada langit yang mendengarkan atau bahkan pada benda benda diangkasa yang melakukan penolakan begitu keras.
bagiku bagian dari menceritakanmu adalah penorehan tinta yang abadi tanpa pengecualian.