Hai semesta,
kita sudah melewati banyak hal yang menyedihkan, menyenangkan bahkan melelahkan.
Tapi ternyata rasanya semuanya masih terperangkap di sebuah galeri lama atau labirin yang tak mudah ku lupa..
ku pikir aku sudah ikhlas dan tak lagi terjebak dan terperangkap, namun nyatanya semua gambaran itu masih samar meski tak tampak nyata,
Aku tau banyak sekali hal yang belum kumaafkan pada diriku sendiri hingga saat ini, meski ku tau mereka yang lalu sudah memberi ruang maaf dan bahkan melupakan,
kembali ku terbenam dalam sebuah sudut alunan musik kencang yang dulu pernah terputar tanpa sengaja, entah kenapa kamu begitu sangat menikmati lagu menyedihkan itu, kamu bilang itu menggambarkan perasaanmu saat itu, ya betul saja karena luka yang ku buat tanpa sengaja,
terngiang dikepalaku lagu "Terbakar Cemburu" Padi, yang tak henti berputar selama satu jam, aku tau banyak sekali hati ini melukai egomu, penghujung tahun 5 tahun lalu membawaku kepada ingatan malam yang begitu rumit
kamu bilang memaafkanku, meski kala itu egoku mengusirmu dengan bahasa yang menurutku begitu menyebalkan, tapi aku kalah kala itu. Aku tau, malam itu puncak dari kesabaranmu dan membalas semua apa yang kulakukan padamu, bahkan sampai hari ini aku masih mengingat apa yang aku ucapkan dan membuatku tak bisa keluar dari rasa bersalah yang besar.
Ya, kamu mengikuti apa yang ku mau.. kamu pura-pura mendekatinya hanya karena permintaanku, Aku masih ingat kejadian di pagi hari itu, di sebuah Cafe area Cikini. Aku menahan tangis sepanjang hari dengan raut muka melelahkan, tapi kamu datang dengan seseorang yang sangat ku kenal. Dan itu sesuai apa yang ku perintahkan, maaf aku mengacau.
Tapi aku tau kalau kamu masih menungguku, hatiku begitu terkikis karena melukaimu sepanjang hari.
Sampai hari ini, penyesalan menggebu di udara. sejak hari itu, aku merubah isi kepalaku, aku mulai berjalan sendirian mengikis luka yang tak pernah termaafkan.
Aku menyesali apa yang aku utarakan, sejak hari itu semua mengubah kepalaku.
Semua yang kulakukan ku larutkan dalam sebuah elegi,
Aku sengaja pindah kota agar hatiku merasa tenang, aku pikir patah hati dan pindah kota dihidupku tak akan pernah terjadi dan tak akan menjadi satu korelasi.
Nyatanya aku melakukanya sejak januari kamu melakukan hal itu di depan mataku, Ya, kami duduk berhadapan di sebuah meja cafe yang penuh terisi 6 orang, kamu memilih bercengkrama asik malu malu dengannya sedang aku duduk bersama teman lainnya sambil menahan tangis.
Aku pikir kejadian itu adalah sisa kemarin ternyata sisa 5 tahun yang lalu, aku melakukan perjalanan busuk setiap waktu, mengumpat habis mencoba mengelabui isi hatiku, dan ternyata serpihan itu masih ada.
Banyak kota yang pada akhirnya ku jelajahi dengan maksud melarikan diri, ternyata di sisa 5 tahun ini aku mengerti tak ada pelarian diri yang berhasil selain, memaafkan. Aku kembali lagi dikota metropolitan penuh gemerlap ini lagi,setelah pelarian panjangku, lagi dan lagi aku mencoba kembali kebesaran hatiku meski aku tak tau sampai sejauh mana aku sadar kalau semesta selalu menyetujui kehendakku.
Aku mencoba kembali mencarimu sampai seorang kawan memberiku sebuah kabar yang menyeretku kembali terlelap, aku dengan hati yang ternyata masih cukup kecewa, membuka perlahan kabar itu. Aku berterimakasih kepada kawanku yang satu ini, karena dia aku tau bagaimana manusia ini berjalan. Ya, aku masih tetap memperhatikannya dari jauh meski ku tau ternyata sudah bertahun-tahun aku menikmati kehilangan.
Undangan berwarna maroon meluncur di hadapanku, meski berbentuk foto rasanya begitu menyentuh hatiku, aku melihat sebuah nama yang sangat tak asing bagiku, sebuah nama yang masih terlintas di dalam ingatan yang tak waras di isi kepala. aku melihat betapa bahagianya tatap mata yang selama ini masih ada di isi kepala dan isi hatiku menatap seorang wanita yang cantik, yang juga ku kenal meski hanya sepintas.
Aku tak tau ternyata dia yang akan menemanimu, andai saja aku tau kala itu mungkin aku tak akan membiarkan diriku berbicara dan tertawa dengan wanita itu.
Tapi, perjalanan demi perjalanan yang aku lalui, perlakuanmu yang mengiyakan kemauanku, jeda yang memberi jarak, undangan kala itu, foto di tengah alam dengan senyum bahagia kalian, dan malam dingin di bulan desember kala itu, pelukan hangat terkahir kalinya, percakapan dan air mata di malam itu, mengajakku untuk berkelana dan membuang semua perasaan bersalahku.
Ya, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, maaf dan selamat.
Aku bahagia dengan kabar baikmu, meski aku tau perlu lapang yang sangat luas untuk menerima kebenaran yang ada di depan mataku. Terimakasih membuatku pergi meninggalkan kota ini dan kembali dengan perasaan lapang yang lebih besar. dan sosok yang lebih bijak agar tak melukai lagi, Meski kamu tak pernah meminta maaf akan semua perlakuanmu aku tau memori diisi kepalamu, terimakasih kamu udah buktiin ke aku, kamu bahagia tanpa aku. aku akhiri semua perasaan bersalahku di tanggal kita bertemu pertama kali kala itu dan terimakasih bangku yang kamu berikan kepadaku kala itu, aku senang mengenalmu pada saat kamu pertama kali menjadi anak baru di tahun itu.
0 komentar:
Posting Komentar