Malam yang larut membebani pikiranku, ternyata aku merindukan kota itu..
Aku lupa kapan terakhir kali aku menangis, tapi malam ini rasanya sesak sekali hati ini,
Aku tak pernah tau bagaimana rasanya terisak sampai aku sulit bernafas dan rasanya seperti menusuk hingga ketulang,
Andai ada kota seperti itu lagi,
beberapa dinamika kehidupannya memang menyebalkan, awalnya dan akhirnya
tapi di sepanjang proses nya aku sadar tak ada tempat seperti ini lagi,
Kota yang awalnya tak pernah ingin ku ingat malah begitu membekas hingga ke tulang,
Kota ini satu-satunya kota yang memelukku dengan hangat dibawah reruntuhan yang tak pernah ada dipikiranku,
Aku mencoba waras tanpa berisik, tanpa berteriak
Aku diam mencoba menikmati banyak hal yang tak ada nikmatnya sedikitpun,
Kota ini mencoba membawaku lebih jauh,
memeluk kekuranganku dengan kasih sayang tanpa menghakimi,
mencoba menerima kegagalanku tanpa menginjak sedikitpun,
membiarkanku berkelana sendiri menopang hidupku di sela-sela kegaduhan dunia,
Aku sempat tak menerima, sempat menangis berhari-hari, sempat bingung tak tau harus bagaimana,
Sempat sebulan penuh tak menyentuh matahari sedikitpun, sempat merasakan hidup sedingin itu,
Tanpa bantuan siapapun aku mencoba menenangkan pikiranku, mencoba bertahan sekali lagi, mencoba menenangkan diri dengan duduk memeluk lutut diujung tembok kamar yang tak seberapa.
Aku tau bagaimana rasanya tak ada seorangpun membantu, dan memilih diam tanpa suara,
aku tau bagaimana manusia melihat dengan sebelah mata ketika kita ada di posisi tidak menguntungkan, satu persatu teman menghilang, aku paham betul posisiku saat itu, tak ada daya hanya sedikit harapan.
Aku menangis sepanjang hari, tapi di alam bawah sadarku aku percaya aku hanya diminta istirahat oleh semesta beberapa minggu.
Aku terlalu keras kepada diriku sendiri, sampailah aku diujung bulan kedua, aku mencoba untuk yakin, mengembalikan posisi diri yang kuat, aku mencoba kembali keras kepada diriku sendiri, aku ingin membuktikan kepada orang-orang yang sampai saat ini masih di sebelahku, aku tak akan jatuh seperti ini lagi, kalian tidak perlu khawatirkan aku,
Aku sangat ingat bagaimana kota ini menggenggamku erat dan mengarahkan ku pelan-pelan, tanpa berisik. Sisa beberapa harapan untuk aku membuktikan aku bisa pulih kembali, tapi hanya sisa, tapi tiba-tiba semua kembali gagal, hari-hariku terasa gelap kembali, aku tak tau arahnya kemana, aku kembali terpojok dengan tangis sepanjang hari. aku tak pernah tau jalannya kemana, aku tak diarahkan bahkan tak ada satu genggaman tangan sedikitpun, karena aku tak berisik.
Aku coba untuk pulih kembali, meski aku tau aku sedang terbunuh pelan-pelan. Aku berjanji kepada diriku sendiri ketika aku pulih, aku akan mengingat nama-nama yang tak ada diruang hidupku, semuanya terbalas dengan sikap acuhku, aku mulai dengan acuh mengabaikan permintaan pertemuan tanpa benefit setara, aku mulai mengabaikan beberapa undangan pernikahan rekan yang menurutku tidak pernah ada di sisi ruang gelap, aku mulai mengabaikan chat-chat manusia-manusia yang datang hanya disaat aku senang bahagia, aku mulai mengacuhkan beberapa orang yang tak hadir disisi gelapku. Aku juga tidak banyak berharap kepada siapapun, karena aku juga tidak bercerita. tapi entah sikap ini tiba-tiba datang dengan sebab, tapi mungkin kalau nanti aku memiliki maaf yang luas lagi, aku akan memaafkan mereka dan kembali membalas pesan-pesan mereka
Aku juga ingat bagaimana keluarga besar yang bisa di ibaratkan sebagai "Saudara" mengabaikanku, namun datang ketika membutuhkanku, tapi lagi-lagi aku memiliki memory yang dalam, aku mengingat bagaimana perlakuan mereka kepadaku, aku mulai sangat acuh dengan keluarga yang katanya besar namun tidak, mereka hanya ada ketika kita "ada" "berhasil" "bahagia" . akhirnya aku muak dan mulai memiliki sikap acuh dan tidak peduli, aku tak peduli mereka ada acara A, B, C, dan Z. Bahkan untuk tau pun rasanya tidak ingin tau, apalagi peduli, rasanya sangat enggan dan tidak ingin.
Aku ingin berteriak "MUAK" . kamu tak pernah tau bagaimana hidup sendiri tanpa siapapun, sampai akhirnya kota ini memapahku yang penuh gelisah, pelan-pelan menghapus perasaan gelisah, memberikanku titik terang yang pelan-pelan terlihat terang
Kota ini memberi penawar yang tak pernah kurasakan , ya " rangkulan kawan" . aku tau tak banyak hal yang bisa diharapkan di kota ini, kota yang cukup kurang baik, kota macet yang padahal entah jauh sekali dari kota, kota yang isinya banyak sekali tingkat kriminal.
Tapi, ya aku disuguhkan dengan teman-teman yang nyata, aku tau betul kekuranganku, aku tau bagaimana aku tak bisa mengendari motor, kala itu siang sangat terik, aku memang biasa berjalan kaki, tapi entah kenapa aku sangat terharu dengan kebaikan-kebaikan kecil dikota ini, tertutama beberapa kawan yang menurutku tak melihat sisi runtuhku kala itu, ia menawarkanku untuk mengantarkan ku mencari makan, sepele namun bagiku yang saat itu begitu rapuh, runtuh, dan menyedihkan hal itu sangat melegakan
Tak lupa kala itu aku ingin sekali kopi, tapi sisa uang tak mungkin cukup, tiba tiba laki-laki di sebelah kamarku menawarkan secangkir kopi, aku tak begitu mengenalnya dan mengetahui kehidupannya sampai akhirnya setelah beberapa lama disebelah kamarnya aku tau manusia di sebelah kamarku begitu baik, meski banyak menyebalkannya, tapi aku tak akan lupa secangkir kopi dan tawaran nasi dan lauk kala itu. Mungkin kalau semesta mengizinkan aku ingin berterimakasih di saat ini, di saat aku sudah kembali pulih,
Tak lupa beberapa malam akan menjadi berat tiba-tiba, disaat sedih seperti ini, ketukan pintu dikamarku tidak pernah sepi, aku berkenalan dengan seorang perempuan yang memperkenalkanku sebuah "KOTA UNDERCOVER DI POJOK JAKARTA" . dia memberi tahuku banyak daerah daerah di kota ini, semua kita telusur seolah hanya malam yang bisa membenamkan masalah di kepala yang entah kapan usai.
aku tau dia juga memiliki masalah yang berat denganku, tapi ku yakin selepas dari kota ini dia bisa tersenyum kembali.
Tanpa kota ini, aku tak akan belajar tentang kehilangan, tentang bertahan, dan tentang menerima diri yang hancur perlahan.
Dan di sanalah aku akhirnya mengerti tak ada luka yang benar-benar asing, tak ada rasa yang mustahil dipahami