Lakukan apa yang kamu mau, jalankan apa yang kamu suka

Sabtu, 17 Januari 2026

Sudut Kota kala itu

Januari 17, 2026 Posted by agista rahmadania No comments
Malam yang larut membebani pikiranku, ternyata aku merindukan kota itu.. 
Aku lupa kapan terakhir kali aku menangis, tapi malam ini rasanya sesak sekali hati ini, 
Aku tak pernah tau bagaimana rasanya terisak sampai aku sulit bernafas dan rasanya seperti menusuk hingga ketulang, 

Andai ada kota seperti itu lagi, 
beberapa dinamika kehidupannya memang menyebalkan, awalnya dan akhirnya 
tapi di sepanjang proses nya aku sadar tak ada tempat seperti ini lagi, 

Kota yang awalnya tak pernah ingin ku ingat malah begitu membekas hingga ke tulang, 
Kota ini satu-satunya kota yang memelukku dengan hangat dibawah reruntuhan yang tak pernah ada dipikiranku, 
Aku mencoba waras tanpa berisik, tanpa berteriak 
Aku diam mencoba menikmati banyak hal yang tak ada nikmatnya sedikitpun, 

Kota ini mencoba membawaku lebih jauh, 
memeluk kekuranganku dengan kasih sayang tanpa menghakimi, 
mencoba menerima kegagalanku tanpa menginjak sedikitpun, 
membiarkanku berkelana sendiri menopang hidupku di sela-sela kegaduhan dunia, 


Aku sempat tak menerima, sempat menangis berhari-hari, sempat bingung tak tau harus bagaimana, 
Sempat sebulan penuh tak menyentuh matahari sedikitpun, sempat merasakan hidup sedingin itu, 
Tanpa bantuan siapapun aku mencoba menenangkan pikiranku, mencoba bertahan sekali lagi, mencoba menenangkan diri dengan duduk memeluk lutut diujung tembok kamar yang tak seberapa. 

Aku tau bagaimana rasanya tak ada seorangpun membantu, dan memilih diam tanpa suara, 
aku tau bagaimana manusia melihat dengan sebelah mata ketika kita ada di posisi tidak menguntungkan, satu persatu teman menghilang, aku paham betul posisiku saat itu, tak ada daya hanya sedikit harapan. 
Aku menangis sepanjang hari, tapi di alam bawah sadarku aku percaya aku hanya diminta istirahat oleh semesta beberapa minggu. 

Aku terlalu keras kepada diriku sendiri, sampailah aku diujung bulan kedua, aku mencoba untuk yakin, mengembalikan posisi diri yang kuat, aku mencoba kembali keras kepada diriku sendiri, aku ingin membuktikan kepada orang-orang yang sampai saat ini masih di sebelahku, aku tak akan jatuh seperti ini lagi, kalian tidak perlu khawatirkan aku, 

Aku sangat ingat bagaimana kota ini menggenggamku erat dan mengarahkan ku pelan-pelan, tanpa berisik. Sisa beberapa harapan untuk aku membuktikan aku bisa pulih kembali, tapi hanya sisa, tapi tiba-tiba semua kembali gagal, hari-hariku terasa gelap kembali, aku tak tau arahnya kemana, aku kembali terpojok dengan tangis sepanjang hari. aku tak pernah tau jalannya kemana, aku tak diarahkan bahkan tak ada satu genggaman tangan sedikitpun, karena aku tak berisik. 

Aku coba untuk pulih kembali, meski aku tau aku sedang terbunuh pelan-pelan. Aku berjanji kepada diriku sendiri ketika aku pulih, aku akan mengingat nama-nama yang tak ada diruang hidupku, semuanya terbalas dengan sikap acuhku, aku mulai dengan acuh mengabaikan permintaan pertemuan tanpa benefit setara, aku mulai mengabaikan beberapa undangan pernikahan rekan yang menurutku tidak pernah ada di sisi ruang gelap, aku mulai mengabaikan chat-chat manusia-manusia yang datang hanya disaat aku senang bahagia, aku mulai mengacuhkan beberapa orang yang tak hadir disisi gelapku. Aku juga tidak banyak berharap kepada siapapun, karena aku juga tidak bercerita. tapi entah sikap ini tiba-tiba datang dengan sebab, tapi mungkin kalau nanti aku memiliki maaf yang luas lagi, aku akan memaafkan mereka dan kembali membalas pesan-pesan mereka

Aku juga ingat bagaimana keluarga besar yang bisa di ibaratkan sebagai "Saudara" mengabaikanku, namun datang ketika membutuhkanku, tapi lagi-lagi aku memiliki memory yang dalam, aku mengingat bagaimana perlakuan mereka kepadaku, aku mulai sangat acuh dengan keluarga yang katanya besar namun tidak, mereka hanya ada ketika kita "ada" "berhasil" "bahagia" . akhirnya aku muak dan mulai memiliki sikap acuh dan tidak peduli, aku tak peduli mereka ada acara A, B, C, dan Z. Bahkan untuk tau pun rasanya tidak ingin tau, apalagi peduli, rasanya sangat enggan dan tidak ingin. 

Aku ingin berteriak "MUAK" . kamu tak pernah tau bagaimana hidup sendiri tanpa siapapun, sampai akhirnya kota ini memapahku yang penuh gelisah, pelan-pelan menghapus perasaan gelisah, memberikanku titik terang yang pelan-pelan terlihat terang 

Kota ini memberi penawar yang tak pernah kurasakan , ya " rangkulan kawan" . aku tau tak banyak hal yang bisa diharapkan di kota ini, kota yang cukup kurang baik, kota macet yang padahal entah jauh sekali dari kota, kota yang isinya banyak sekali tingkat kriminal. 

Tapi, ya aku disuguhkan dengan teman-teman yang nyata, aku tau betul kekuranganku, aku tau bagaimana aku tak bisa mengendari motor, kala itu siang sangat terik, aku memang biasa berjalan kaki, tapi entah kenapa aku sangat terharu dengan kebaikan-kebaikan kecil dikota ini, tertutama beberapa kawan yang menurutku tak melihat sisi runtuhku kala itu, ia menawarkanku untuk mengantarkan ku mencari makan, sepele namun bagiku yang saat itu begitu rapuh, runtuh, dan menyedihkan hal itu sangat melegakan 

Tak lupa kala itu aku ingin sekali kopi,  tapi sisa uang tak mungkin cukup, tiba tiba laki-laki di sebelah kamarku menawarkan secangkir kopi, aku tak begitu mengenalnya dan mengetahui kehidupannya sampai akhirnya setelah beberapa lama disebelah kamarnya aku tau manusia di sebelah kamarku begitu baik, meski banyak menyebalkannya, tapi aku tak akan lupa secangkir kopi dan tawaran nasi dan lauk kala itu. Mungkin kalau semesta mengizinkan aku ingin berterimakasih di saat ini, di saat aku sudah kembali pulih, 

Tak lupa beberapa malam akan menjadi berat tiba-tiba, disaat sedih seperti ini, ketukan pintu dikamarku tidak pernah sepi, aku berkenalan dengan seorang perempuan yang memperkenalkanku sebuah "KOTA UNDERCOVER DI POJOK JAKARTA" . dia memberi tahuku banyak daerah daerah di kota ini, semua kita telusur seolah hanya malam yang bisa membenamkan masalah di kepala yang entah kapan usai. 
aku tau dia juga memiliki masalah yang berat denganku, tapi ku yakin selepas dari kota ini dia bisa tersenyum kembali.

Tanpa kota ini, aku tak akan belajar tentang kehilangan, tentang bertahan, dan tentang menerima diri yang hancur perlahan.
Dan di sanalah aku akhirnya mengerti tak ada luka yang benar-benar asing, tak ada rasa yang mustahil dipahami




























Senin, 12 Januari 2026

Melarikan Diri "make you feel my love"

Januari 12, 2026 Posted by agista rahmadania No comments
Hai semesta, 

kita sudah melewati banyak hal yang menyedihkan, menyenangkan bahkan melelahkan.
Tapi ternyata rasanya semuanya masih terperangkap di sebuah galeri lama atau labirin yang tak mudah ku lupa..

ku pikir aku sudah ikhlas dan tak lagi terjebak dan terperangkap, namun nyatanya semua gambaran itu masih samar meski tak tampak nyata, 

Aku tau banyak sekali hal yang belum kumaafkan pada diriku sendiri hingga saat ini, meski ku tau mereka yang lalu sudah memberi ruang maaf dan bahkan melupakan, 

kembali ku terbenam dalam sebuah sudut alunan musik kencang yang dulu pernah terputar tanpa sengaja, entah kenapa kamu begitu sangat menikmati lagu menyedihkan itu, kamu bilang itu menggambarkan perasaanmu saat itu, ya betul saja karena luka yang ku buat tanpa sengaja, 

terngiang dikepalaku lagu "Terbakar Cemburu" Padi, yang tak henti berputar selama satu jam, aku tau banyak sekali hati ini melukai egomu, penghujung tahun 5 tahun lalu membawaku kepada ingatan malam yang begitu rumit 

kamu bilang memaafkanku, meski kala itu egoku mengusirmu dengan bahasa yang menurutku begitu menyebalkan, tapi aku kalah kala itu. Aku tau, malam itu puncak dari kesabaranmu dan membalas semua apa yang kulakukan padamu, bahkan sampai hari ini aku masih mengingat apa yang aku ucapkan dan membuatku tak bisa keluar dari rasa bersalah yang besar. 

Ya, kamu mengikuti apa yang ku mau.. kamu pura-pura mendekatinya hanya karena permintaanku, Aku masih ingat kejadian di pagi hari itu, di sebuah Cafe area Cikini. Aku menahan tangis sepanjang hari dengan raut muka melelahkan, tapi kamu datang dengan seseorang yang sangat ku kenal. Dan itu sesuai apa yang ku perintahkan, maaf aku mengacau. 
Tapi aku tau kalau kamu masih menungguku, hatiku begitu terkikis karena melukaimu sepanjang hari. 

Sampai hari ini, penyesalan menggebu di udara. sejak hari itu, aku merubah isi kepalaku, aku mulai berjalan sendirian mengikis luka yang tak pernah termaafkan. 
Aku menyesali apa yang aku utarakan, sejak hari itu semua mengubah kepalaku. 
Semua yang kulakukan ku larutkan dalam sebuah elegi, 

Aku sengaja pindah kota agar hatiku merasa tenang, aku pikir patah hati dan pindah kota dihidupku tak akan pernah terjadi dan tak akan menjadi satu korelasi.
Nyatanya aku melakukanya sejak januari kamu melakukan hal itu di depan mataku, Ya, kami duduk berhadapan di sebuah meja cafe yang penuh terisi 6 orang, kamu memilih bercengkrama asik malu malu dengannya sedang aku duduk bersama teman lainnya sambil menahan tangis.

Aku pikir kejadian itu adalah sisa kemarin ternyata sisa 5 tahun yang lalu, aku melakukan perjalanan busuk setiap waktu, mengumpat habis mencoba mengelabui isi hatiku, dan ternyata serpihan itu masih ada. 

Banyak kota yang pada akhirnya ku jelajahi dengan maksud melarikan diri, ternyata di sisa 5 tahun ini aku mengerti tak ada pelarian diri yang berhasil selain, memaafkan. Aku kembali lagi dikota metropolitan penuh gemerlap ini lagi,setelah pelarian panjangku, lagi dan lagi aku mencoba kembali kebesaran hatiku meski aku tak tau sampai sejauh mana aku sadar kalau semesta selalu menyetujui kehendakku. 

Aku mencoba kembali mencarimu sampai seorang kawan memberiku sebuah kabar yang menyeretku kembali terlelap, aku dengan hati yang ternyata masih cukup kecewa, membuka perlahan kabar itu. Aku berterimakasih kepada kawanku yang satu ini, karena dia aku tau bagaimana manusia ini berjalan. Ya, aku masih tetap memperhatikannya dari jauh meski ku tau ternyata sudah bertahun-tahun aku menikmati kehilangan. 

Undangan berwarna maroon meluncur di hadapanku, meski berbentuk foto rasanya begitu menyentuh hatiku, aku melihat sebuah nama yang sangat tak asing bagiku, sebuah nama yang masih terlintas di dalam ingatan yang tak waras di isi kepala. aku melihat betapa bahagianya tatap mata yang selama ini masih ada di isi kepala dan isi hatiku menatap seorang wanita yang cantik, yang juga ku kenal meski hanya sepintas. 
Aku tak tau ternyata dia yang akan menemanimu, andai saja aku tau kala itu mungkin aku tak akan membiarkan diriku berbicara dan tertawa dengan wanita itu. 

Tapi, perjalanan demi perjalanan yang aku lalui, perlakuanmu yang mengiyakan kemauanku, jeda yang memberi jarak, undangan kala itu, foto di tengah alam dengan senyum bahagia kalian, dan malam dingin di bulan desember kala itu, pelukan hangat terkahir kalinya, percakapan dan air mata di malam itu, mengajakku untuk berkelana dan membuang semua perasaan bersalahku. 

Ya, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, maaf dan selamat. 
Aku bahagia dengan kabar baikmu, meski aku tau perlu lapang yang sangat luas untuk menerima kebenaran yang ada di depan mataku. Terimakasih membuatku pergi meninggalkan kota ini dan kembali dengan perasaan lapang yang lebih besar. dan sosok yang lebih bijak agar tak melukai lagi,  Meski kamu tak pernah meminta maaf akan semua perlakuanmu aku tau memori diisi kepalamu, terimakasih kamu udah buktiin ke aku, kamu bahagia tanpa aku. aku akhiri semua perasaan bersalahku di tanggal kita bertemu pertama kali kala itu dan terimakasih bangku yang kamu berikan kepadaku kala itu, aku senang mengenalmu pada saat kamu pertama kali menjadi anak baru di tahun itu. 









 










Jumat, 19 Januari 2024

Adrenalin

Januari 19, 2024 Posted by agista rahmadania 1 comment
Aku tak tau kamu siapa, aku juga tak mengenalmu begitu dekat 
Ada beberapa hal yang mejadi bagian plot twist yang sangat membuatku terkejut 
kamu hadir disaat aku tak membutuhkan masukan, disaat semua yang kujalani terasa salah 
tapi ternyata semua itu menjadi api membara.

kamu datang dari kota sebrang dengan lantunan lirik yang lirih 
kamu datang dari barat sumatera. 
kamu menyadarkan ku satu hal
pilihan akan tetap menjadi pilihan yang tak dipilih kalau hanya dipikirkan,

aku membuka lagi lembaran simfoni lama yang sudah lama kukubur dengan berat hati.
aku kembali membuka satu persatu bagian kertas putih yang sudah lapuk,
yang ku ingat kamu bercerita bahwa mimpiku tak boleh tenggelam begitu saja,
tidak bisa hanya menjadi angan. 
kamu betul, aku akan mencoba kembali dengan beberapa konsekuensi ingatan yang juga telah kukubur
bait yang saat ini aku tuliskan menimbulkan banyak keraguan beberapa waktu lalu, 

Tapi, sekali lagi kamu mengingatkan bahwa semua akan menjadi bagian indah yang akan ku ingat. 
kamu juga mengingatkanku pada diriku yang dulu, menjadi seniman muda adalah mimpiku dengan beberapa lukisan di beberapa dinding dengan ruangan yang cukup megah, ya betul sebuah ruang pameran lukisan, bukan kah menyenangkan melukiskan semua hal yang gamblang yang tak semua orang paham dan sadar dalam memahaminya. 

saat ini aku mencoba lagi dengan jalanku yang lain, aku mengatur arah balik kembali dengan beberapa strategi yang berbeda dari sebelumnya, 
kamu benar aku harus mencoba kembali dengan beberapa karyaku sampai semua air mata terbayar dengan lunas dengan beberapa dimensi waktu yang tergambar. 




Sabtu, 25 November 2023

Kilas balik

November 25, 2023 Posted by agista rahmadania No comments
Kilas balik yang akan ku ceritakan, dengan maksud mematahkan perasaan sendu yang selama ini menerkam habis habisan perasaan yang tak terdefinisikan bagaimana sakitnya. 
Ku kira perjalanan panjang setelah aku pergi dari kota dimana aku mengenalmu menjadi lebih mudah dan menyenangkan ternyata kapasitas hati ku tak bisa menelan rapat rapat rasa sakit. 
Ku coba kubur perasaan menyakitkan secara dalam
Dalam. Namun sayangnya masih menembus benteng pertahanan nyali ciut satu ini. 
Aku sampai tak habis pikir dengan perasaan kali ini. Bagaimana bisa aku menanam perasaan yang menyakitkan sejauh ini. Aku mulai menertawakan perasaan sedu ku. 
Aku selalu bicara tentang ikhlas yang tak ada habisnya tapi nyatanya perasaan ikhlas tak kunjungku temukan di waktu ataupun di ruang yang berbeda 
Aku ingin menangis tanpa banyak berbicara, tapi rasanya sangat tidak mungkin. 
Aku menemukan sesuatu yang sulit ku terima, ya betul, kedatangannya. Aku kembali mengingat ingat bahwa aku juga sekali bertemu dengan wanita itu. Tapi yang ku tau sigaret yang kitaaa genggam sama. 
Bagaimana bisa aku menolak tidak mengenalnya sedang aku mengenal dirinya. 
Tak banyak yang ingin ku ketahui kembali setelah banyaknya perjalanan ini. 
Yang ku tau dia menyenangkan dan kamu bahagia dengan sosok wanita ini. Aku ingin sekali memberi selamat, tapi apakah kamu bertahan dengann ucapan selamatku ini.
Aku takut kekokohan hati ku ini kembali nelangsa apabila tak sengaja menatapmu kembali meski kalaupun terjadi pertemuan ini. Aku akan pura pura tdk mengenalmu. 



5 Februari tahun belakang "perkenalan yang dimulai"

November 25, 2023 Posted by agista rahmadania No comments
Rasanya masih membekas saat ini, tapi aku paham akan ada yang abadi di setiap tulisan terkait dirimu. 
Maaf melibatkan dirimu di hidupku sejauh ini. Aku hanya melibatkanmu masuk kedalam semesta ku, semesta yang tak pernah aku pikirkan akan melibatkan luka didalamnya. 
Aku mengingat kembali malam itu, malam dimana perkenalan kita dimulai. boleh bukan aku mengingatnya? mengingat kita teman dan tanpa melibatkan apapun. 
Hari dimana kamu menceritakan kilas balik dirimu yang sampai saat ini masih terekam di dalam memory ingatanku. 
Kamu adalah syair yang tak pernah habis ku pikirkan, hingga aku paham bahwa percuma. 
Aku yang salah bertanya lebih jauh tentangmu hingga larut malam. 
Aku selalu menyalahkan diriku karena kesalahanku mengenalmu malam itu. Memulai pembicaraan yang menurutku sangatlah tidak penting untuk dijelaskan bagaimana bisa aku membawamu kepada malam-malam panjang yang menyakitkan berikut berikutnya. 
Aku yang sengaja tidak melanjutkan pembicaraan sehingga bisa ku lanjutkan dikemudian hari olehmu adalah kebiasaanku. 
Aku memulai semua yang tak harus ku mulai. Terimakasih dan maaf untuk tahun tahun yg berat menurutmu. Aku tak yakin hanya aku yang terlibat. 
Bulan dimana aku berkenalan denganmu, adalah bulan bulan yang sangat menyenangkan, bulan dimana aku tak pernah tau di bulan januari awal tahun selanjutnya menjadi pertemuan paling menyakitkan yg pernah aku lalui. 
Bagaimana menurutmu perasaanku kala itu? 
Hancur tanpa cerita bukan?
Aku menuliskannya tanpa memberitahumu
Aku menjelaskan bagaimana perasaanku tanpa menyalahkanmu lagi
Lagi dan lagi, bulan ini mengantarkan ku pada keputusan dan perasaan yang sangat sulit enatah bagaimana menjelaskannya yg jelas aku terluka tanpa berbicara

Selasa, 11 Januari 2022

Untuk ia dengan nama yang sama dengan orang yang berbeda namun luka yang sama

Januari 11, 2022 Posted by agista rahmadania No comments
surat terbuka untukmu yang mungkin tak akan membalas pesanku, 
kabar baik ku lihat darimu, harusnya aku tersenyum bukan menangis. Bisa-bisanya aku tak menerima kabar baik dengan penuh bahagia, 
Aku lihat kamu sudah terbiasa tak menerima pesanku, padahal aku masih menunggu, gapapa bukan semua salahmu, ada campur tangan tuhan juga disana, 
Makasih ya udah bikin aku ngerasa ga nyaman. Bukan salah kamu juga si, makasih juga ya udah bikin aku ngerasa ga pantes buat di sayang. Harusnya aku bisa bersikap biasa aja, bukan ngerasa paling tersakiti, toh aku juga yang banyak salah. 
Kamu tau  gimana seringnya aku bertirakap sama tuhan, supaya kamu juga ngerasain sedikit aja rasa sakit nya. 
Mungkin kamu lupa, seberapa sering kita ngelewatin malam, mungkin juga ngga atau mungkin juga kamu bohong waktu kamu bilang kamu ga akan lupa sama yang namanya "momen" 
Kamu tau? hal yang aku benci kalau ketemu kamu? aku benci karena tuhan selalu bikin kita ketemu! aku benci inget, gimana kamu ngomong lewat ponsel berjam-jam, video call sepanjang malam sampai aku tertidur, aku benci inget itu semua. 
Untukmu yang tak ku sebutkan namanya, nama yang sama yang ku temui 5 tahun lalu namun dengan orang berbeda, Aku bukannya pernah bercerita panjang lebar bagaimana ia yang dulu bersikap denganku? Kamu yang memiliki nama yang sama lagi-lagi melukai dengan hal yang sama hebatnya. 
Ada podium disini? aku ingin bertepuk tangan lalu berkata "kamu hebat saayang!" 

Kamu tau? oia kamu gak mau tau juga
Sekarang aku benci jalanan yang pernah kita laluin, bahkan aku takut untuk lewatin jalan yang pernah kita laluin
Aku benci makan di tempat kita pertama kali ketemu
Aku benci nama daerah yang kamu sebutin karena dulu kita pernah berencana untuk ketemu disana,
Aku benci suara hujan diluar kaca mobil, 
Aku benci malam dengan bulan lingkaran penuh karena aku selalu bertemu denganmu
Bahkan Aku benci kamar aku sendiri, aku benci setiap sudutnya tanpa terkecuali 
Aku benci game yang kamu mainkan setiap malam bahkan saat kamu temenin aku kuliah, padahal yang aku tau game itu juga favorit ku
Aku benci hujan disore hari, karena aku selalu ingat bagaimana kita bertemu dengan baju yang basah namun dengan senyum bahagia
Aku benci saat kamu bilang "belum siap hilang, tapi ketika aku yang belum siap kamu tetap berupaya hilang"
Aku benci ngerayain ulang tahun, karena kamu pernah tiup lilin dihadapan aku 
Aku benci semua lagu yang pernah kita puter sama-sama 
Aku benci lagu Adele dengan judul make you feel my love karena aku inget kamu puter lagu itu
Aku benci orang sakit, karena aku pernah sepeduli itu sama kamu. 
Makasih ya, udah banyak bikin aku benci semuanya 

Senin, 05 Juli 2021

Untuk Januari "Mengenalmu hanya untuk mengenang"

Juli 05, 2021 Posted by agista rahmadania No comments
Januari, 2021
Hai Januari, yang tidak baik-baik aja. ternyata memang akan selalu membawa cerita yang menyulitkan untukku disepersetiap tahunnya. menyudutkanku pada posisi yang tidak baik-baik saja. Lalu, aku menemukanmu di pagi hari dengan suara berisik di sebuah kerumunan. Aku bahkan tak mengenalimu. 
pandemik kala itu membuat kita semua sepakat menggunakan masker. Aku yang datang persis disebelah kursimu sambil berdiri, entahlah kenapa aku harus berdiri diantara kursimu. Mungkin kalau kala itu kita tak saling bertemu, tak akan ada luka yang kulalui kembali. 
Lalu dengan kebaikan hatimu, kamu memberikan kursimu untukku dan kamu memilih berdiri diujung dibawah sinar matahari yang sepekan sudah sangat panas. 
Lalu aku berterima kasih. 
Beberapa waktu kemudian semesta kembali bercanda. Masih di gedung yang sama bahkan di tanah yang sama. Aku harus bertemu denganmu karena suatu sebab yang mendesak. 
Lalu semua berjalan begitu saja, hari itu aku melihat senyum di wajahmu dan bertukar pembicaraan sejenak. Semua pembicaraan yang tak pernah menjadi dugaanku akan membawa ku lebih dalam mengenalmu.
Aku tau ini awal yang tidak baik dari semua yang berjalan seharusnya berjalan dengan baik, yang diharapkan baik ternyata aku salah. ini berjalan begitu rumit dan aku tau kamu tidak baik-baik saja menjalaninya. 
Hari pertama kita bertukar nomor, tanpa ingin lebih jauh aku mengakhiri pembicaraan, karena akan terlalu rumit jika aku harus meneruskan. 
Hari pertama kita bertukar pesan, sebatas iya dan siap sebagai seorang rekan. Tak lebih dan tak kurang.
Aku tak berharap banyak atas respon selebihnya.
Aku memandangi hidupku yang semakin hari semakin berantakan mengingat pertemuan kita yang di ciptakan semesta. Aku sama sekali tak ingin menghindari semuanya, tapi aku tau kamu sedang menghindari semua yang diciptakan takdir. 
Kalau hari itu aku bisa kembali mungkin aku akan meminta maaf terlebih dahulu atas semua yang aku ciptakan. Ya, bukan hanya aku yang menciptakan. tetapi kamu juga. 
Tapi sampai hari dimana aku pergi, aku tak pernah meminta mu meminta maaf atas segala yang semesta ciptakan. 
Aku gaduh dengan pikiranku sendiri, meraba perasaan menyesal yg sesak. Tanpaku sadari yg kupunya semua lenyap beserta kenangan denganmu 

Minggu, 04 Juli 2021

Setelah aku kehilangan kabarmu

Juli 04, 2021 Posted by agista rahmadania No comments

 Aku lupa memprediksi perasaanku padamu, sesuatu yang sulit di jelaskan oleh nalar

Cinta yang ku rasa saat ini seperti menghirup sebatang rokok. 

Ketika aku menghirupnya begitu dalam dan aku lupa ternyata abunya menyakitkan bahkan melukai 

Begitulah siklus aku mencintaimu, semakin dalam dan ternyata aku melukai diriku, 

Berpura-pura baik-baik saja adalah kegemaranku 

Entah apa yang harus ku jalani seperti kelihatannya baik 

Kamu adalah cerita yang sulit ku cerna

yang melukai tanpa masuk akal 

Aku bingung bagaimana menjelaskan satu per satu perasaanku 

yang aku tau hari semakin hari begitu menyakitkan 

Begitu sulit terlebih sejak aku membiasakan diri tanpa kabarmu

menjalani hidup hanya sekedar hidup 

aku pikir dunia sedang tidak baik baik saja 

ternyata aku salah, aku yang sedang tidak baik-baik saja 

Kamis, 01 Juli 2021

Kamu bilang kita rumit?

Juli 01, 2021 Posted by agista rahmadania No comments

Kamu bilang kamu gak mungkin lupa momennya 

tapi aku pikir kamu pasti akan lupa aku 

Aku yang cuma bisa nuntut kamu untuk ada disini 

mengikuti semua permainan yang merusak perasaan 

kamu bilang semuanya akan berjalan buntu kalau kita bertemu 

aku pikir semuanya berjalan baik-baik aja 

ternyata aku salah semua yang berjalan terasa berat untukmu 

Menghubungi larut malam menjadi kebiasaan

Berceloteh entah apa yang dibicarakan 

Tapi kamu selalu membuatku tertawa 

Melihatmu menaikan alis ketika bertemu menjadi hal yang aku rindukan saat ini 

Kamu bilang semua nya berjalan begitu berat dan rumit

Tapi aku pikir semuanya bisa dijalankan dengan baik 

Tapi lagi-lagi aku salah menebak 

Bukankah aku sudah mengatakan aku merindukanmu belakangan?

Mungkin dimatamu semua tentangku hanya objek bercanda 

Suaramu masih menjadi favorit pengantar tidurku 

masih menggila dikepala ku setiap kali mata ini ingin terpejam di malam hari 

Sekarang yang aku dapatkan hanya memandang foto yang pernah kamu kirimkan untukku 

ya, mungkin sedikit memberikan lupa kalau kamu sudah tak ingin bicara 


Rabu, 30 Juni 2021

make you feel my love "salah satu lagu adele" bukan?

Juni 30, 2021 Posted by agista rahmadania No comments
Aku masih memandangi wajahmu meski aku didalam dekapanmu 
lalu, aku membalikkan badan dan menatap sisi kamar gelap kala itu 
Cahaya yang sengaja dibuat gelap malam itu seolah menari di memori ingatan 
Sudah ku paksa pergi namun jeratan rekamannya begitu banyak 
Aku kembali di dalam dekapanmu, menghirup parfum di bajumu kala itu 
aku sangka aku menikmatinya 
mengusap kepalamu dengan jemari halusku, 
menekan emosi dan egois didadamu yang sedang menggebu 
Aku tau semua berjalan tak akan lama 
ku kira aku semakin hari semakin egois ingin memaksakan kehendak manusia 
Nyatanya aku mengalah. 
Ya, aku memilih berhenti
Kamu yang memaksa ku berhenti, aku berhenti sebagai seorang penjahat peran. 
kamu senang bukan?
Hari itu aku sadar, 
Tangan itu tiba-tiba merenggang tanpa tau kapan mendekap kembali 
Rambutnya yang masih sangat terasa lembut di jari jemariku 
Aku melihatmu duduk dihadapanku dengan wajah tertunduk 
Rasanya melepas adalah karya tuhan yang paling rumit 
Tapi ternyata keadaan kala itu yang dibuat semesta lebih rumit 
Aku rasa aku lupa menahan sesuatu yang seharusnya tak menetes di pelupuk mataku 
Aku kembali mengingat bagaimana tangan itu menghapus air mata di bawah pelupuk mata ini 
Kamu bilang kamu yang salah, tapi mungkin aku yang salah 
kita sama sama terlalu jauh memaksakan semuanya terus berjalan 
dalih melepas ternyata yang ada semakin erat di ingatan 
padahal kamu bilang semua rumit 
aku merindukan bagaimana kita sama-sama mendengarkan rekaman gitarmu malam itu 
Bukankah menurutmu semua itu rumit?
padahal kita hanya menikmati malam seperti manusia kebanyakan 
persetan, aku selalu merindukan setiap kali kamu mengusap halus kepalaku. 



Jumat, 28 Mei 2021

Masih tentang kamu

Mei 28, 2021 Posted by agista rahmadania No comments
Aku pernah bercerita kepada malam, lalu malam diam hanya mengangguk dan menerima 
Lalu esok harinya aku kembali menceritakan semua laraku pada malam dan malam kembali menerima
Aku tak pernah berhenti, esoknya aku datang dan bercerita kepada langit 
Langit hanya menyaksikan sambil mengeluarkan rintik gerimis air yang jatuh ke tanah 
Aku kembali lagi bercerita tentang pahit yang kulahap sendiri kepada bintang dan bulan 
mereka hanya diam 
Lalu ke esokan hari nya aku menatap langit ternyata bintang hanya singgah sendiri tidak lagi bersama bulan. 

Kamu tau? dari situ aku belajar, tak semua akan menerima bagaimana ceritaku 
Begitu pun saat kamu tau bagaimana perasaanku yang masih tetap sama keadaannya sejak pertama kali aku menjumpaimu. 
Bagaimana pun bagiannya akan ada penolakan yang akan selalu aku terima.

Aku menjadikanmu sendayu mataku, sejauh aku mengalir dari hulu ke hilir. Tatapan matamu masih menjadi bagian favorit cerita lamaku. 
Aku menjadikanmu cerita yang enggan di dengan langit, malam, bintang ataupun bulan.
sampai aku sadar bagaimana pahitnya memeluk bayangan kosong yang selama ini ku genggam

Kamu tau?
Akan ada cerita tentangmu yang aku ceritakan pada langit yang mendengarkan atau bahkan pada benda benda diangkasa yang melakukan penolakan begitu keras. 
bagiku bagian dari menceritakanmu adalah penorehan tinta yang abadi tanpa pengecualian.