Aku masih memandangi wajahmu meski aku didalam dekapanmu
lalu, aku membalikkan badan dan menatap sisi kamar gelap kala itu
Cahaya yang sengaja dibuat gelap malam itu seolah menari di memori ingatan
Sudah ku paksa pergi namun jeratan rekamannya begitu banyak
Aku kembali di dalam dekapanmu, menghirup parfum di bajumu kala itu
aku sangka aku menikmatinya
mengusap kepalamu dengan jemari halusku,
menekan emosi dan egois didadamu yang sedang menggebu
Aku tau semua berjalan tak akan lama
ku kira aku semakin hari semakin egois ingin memaksakan kehendak manusia
Nyatanya aku mengalah.
Ya, aku memilih berhenti
Kamu yang memaksa ku berhenti, aku berhenti sebagai seorang penjahat peran.
kamu senang bukan?
Hari itu aku sadar,
Tangan itu tiba-tiba merenggang tanpa tau kapan mendekap kembali
Rambutnya yang masih sangat terasa lembut di jari jemariku
Aku melihatmu duduk dihadapanku dengan wajah tertunduk
Rasanya melepas adalah karya tuhan yang paling rumit
Tapi ternyata keadaan kala itu yang dibuat semesta lebih rumit
Aku rasa aku lupa menahan sesuatu yang seharusnya tak menetes di pelupuk mataku
Aku kembali mengingat bagaimana tangan itu menghapus air mata di bawah pelupuk mata ini
Kamu bilang kamu yang salah, tapi mungkin aku yang salah
kita sama sama terlalu jauh memaksakan semuanya terus berjalan
dalih melepas ternyata yang ada semakin erat di ingatan
padahal kamu bilang semua rumit
aku merindukan bagaimana kita sama-sama mendengarkan rekaman gitarmu malam itu
Bukankah menurutmu semua itu rumit?
padahal kita hanya menikmati malam seperti manusia kebanyakan
persetan, aku selalu merindukan setiap kali kamu mengusap halus kepalaku.
0 komentar:
Posting Komentar